RSS Feed
timbul bhuana
image

Timbul Bhuana

greatest memories...


Jalan Kapten Sujana No, 1 Blahbatuh Gianyar Bali
telp/WA.: 081237592626
Fax. 0361 955276
email: timbulbhuana@gmail.com
PIN BB : 24d95305
Artikel Terbaru
SLINK

Jatiluwih

Jatiluwih termasuk salah satu objek wisata dengan panorama yang indah, sangat sesuai dengan namanya : jati dan luwih, dimana 'jati' berarti benar-benar dan 'Luwih' berarti utama, bagus, indah atau sejenisnya

 

Jatiluwih, Karisma Desa Wisata

EMPAT wisatawan asing bergegas turun dari mobil Avanza, lalu menuju kubu (kandang) seekor sapi yang tengah makan rumput di satu petak sawah Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali, Selasa (1/2/2011).

Wisatawan asal Eropa itu bergantian foto bersama dilatarbelakangi panorama sawah berundak serta Gunung Batu Kau, selain Gunung Batur dan Gunung Agung yang samar-samar terbayang di belakang tersaput kabut sore.

Tidak lama berselang, datang beberapa minibus membawa wisatawan asal Eropa, Jepang, dan Singapura yang terdiri atas anak-anak dan dewasa. Setelah kendaraan diparkir, mereka berhamburan untuk berfoto dan melepas pandangan ke bentangan sawah berundak yang tanaman padinya baru mengeluarkan tunas.

Sawah bertingkat sebagai point of view itu berada di seberang jalan utama yang memisahkannya dengan rumah penduduk Desa Jatiluwih yang umumnya bermata pencarian sebagai petani. Petak-petaknya menghampar mengikuti kontur tanah sehingga para pelancong bisa saja nongkrong dalam kendaraan menyaksikan hamparan sawah yang bagaikan lukisan alam.

Undakan sawah, hawa sejuk dataran tinggi, serta petani yang lalu lalang membawa cangkul, sabit, dan peranti acara untuk sembahyang di pura sawah sebelum mengerjakan lahan garapan boleh jadi sebuah karisma Desa Jatiluwih, Desa Mengesti, dan beberapa desa di sekitarnya. Itulah agaknya pertimbangan areal bercocok tanam di desa-desa itu diusulkan sebagai cultural world heritage ke UNESCO.

Usulan itu bagi Nengah Wirata, Kepala Desa Jatiluwih, membawa konsekuensi, antara lain kawasan itu menjadi ”milik bersama” warga lokal dan masyarakat dunia (wisatawan). Pemilik, terlebih lagi investor, tak bebas mengalihfungsikannya. Artinya, ”Wisatawan hanya tour menikmati kawasan ini, tetapi mereka menginap di tempat lain,” ujar Made Suarya, petani dan purnawirawan TNI AD dari Dusun Wangaya Betan, Desa Mengesti.

Areal sawah di Desa Jatiluwih relatif sempit, yaitu 303 hektar (ha), dan di Desa Mengesti 160 ha. Namun, keduanya berkontribusi terhadap Kabupaten Tabanan sebagai lumbung padi Provinsi Bali.

Di pihak lain, menurut Wirata dan Suarya, sawah dan alam sekitar adalah manifestasi ajaran Hindu yang tertuang dalam Tri Hita Karana: hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan sesama manusia, dan hubungan manusia dengan alam. Harmonisasi hubungan antarkomponen itu diterapkan secara turun- temurun lewat subak—sistem tata guna air—yang sarat makna solidaritas sosial, gotong royong, dan toleransi. Nilai-nilai solidaritas juga terwakili dengan keberadaan permukiman Muslim di Dusun Soko, Desa Senganan—tetangga Desa Jatiluwih.

Tercatat ada 12 keluarga (75 jiwa) yang tinggal di sana. ”Kami adalah generasi ketujuh di sini,” ujar Jamirin, pengurus Masjid Al Hamzah yang berada di sebuah dataran tinggi. Saat dibangun, warga yang beragama Hindu ikut membantu meratakan perbukitan tempat masjid itu kini berdiri.

Selama ini mereka hidup berdampingan secara damai, malah ibunda Jamirin, yaitu Siti Suwani, adalah mualaf yang berasal dari Desa Jatiluwih. Tradisi saling kunjung saat Idul Fitri dan Galungan, bahkan tradisi ngejot (mengantar makanan) ketika tiap-tiap umat merayakan hari besar keagamaan, masih berjalan hingga saat ini.

Hubungan harmonis itu berjalan turun-temurun, sebagaimana strategi menanam padi varietas lokal yang bertali-temali dengan nilai sosial dan budaya serta kearifan lokal. Salah satunya, pantang mendirikan bangunan permanen di persawahan. Sebab, dengan situasi alam terbuka di tengah sawah, bangunan sangat rawan disambar petir. Karena itu, petani hanya membangun kubu (gubuk) yang berfungsi sebagai gudang untuk menyimpan alat pertanian atau kandang ternak. Kubu dan ternak itu berperan ganda untuk menghasilkan bahan baku pupuk dan pemrosesan pupuk organik dari kotoran sapi atau kerbau.

Dengan pupuk organik itu, Suarya yang memiliki 0,30 are (30 meter persegi) sawah bisa memperoleh 2 ton gabah kering panen. Hasil itu sangat tinggi dibandingkan lahan yang ditaburi pupuk kimia dengan produksi 16 kuintal.

Tradisi agraris itu diduga berkaitan dengan mitos yang menyertai Pura Batu Kau dan pura besar lain, seperti Besakih, Lempuyang, Andakasa, dan Pura Batur di Bali. Konon, suatu masa terjadi kemarau panjang di seputar Pura Batu Kau. Rakyat pun masuk hutan mencari makanan. Di antara mereka, dalam suasana antara sadar dan tidak sadar, ditunjukkan ”pemandangan gaib”: sawah dengan tanaman padi menguning dan sebuah rumah berpenghuni seorang kakek.

Mereka diminta singgah di rumah itu, lalu sang kakek memberi mereka bibit padi gaga. Ketika benih padi diterima, sang kakek dan rumah itu menghilang seketika. Masyarakat pun melaksanakan pesan sang kakek untuk menanam bibit padi itu.

”Pesan” itu lalu dimanifestasikan dalam pola tanam para petani. Di Desa Mengesti, misalnya, petani wajib menanam varietas lokal (padi beras merah dan putih) pada musim hujan (kertamasa). Sedangkan musim kemarau (gadon/gadu) pada Juli-Agustus, petani diizinkan menanam varietas unggul IR 64 dan palawija. Pola tanam itu diperkuat awik-awik (peraturan) lewat subak masing-masing.

Konon, pernah terjadi pelanggaran tradisi bercocok tanam itu sehingga berakibat semua tanaman padi gagal panen karena diserang hama tikus dan wereng.

Kalaupun tak ada gagal panen, petani juga dihadang sanksi: tak mendapat jatah air untuk sawahnya atau dibebani upacara adat di pura dengan biaya Rp 3 juta. Jatiluwih sudah mengaturnya....

sumber: kompas.com

Yuk, Gowes di Jatiluwih...

BERAGAM cara bisa dilakukan untuk menikmati sajian keindahan alam yang dihadirkan persawahan Jatiluwih, Tabanan, Bali. Tak puas hanya memandang, mari nikmati kesegaran udaranya dengan bersepeda menyusuri pematang sawah.

Kawasan wisata Jatiluwih, Selasa (17/5/2011) dipenuhi wisatawan mancanegara, yang umumnya berasal dari Eropa, seperti Swiss, Perancis, Belanda. Wisatawan domestik yang menikmatinya hanya segelintir orang.

Desa Jatiluwih berada dibawah Gunung Batukaru dengan ketinggian sekitar 800 mdpl di Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan. Lokasinya berjarak 50 kilometer utara Denpasar atau sekitar 1,5 jam perjalanan dengan berkendara mobil atau sepeda motor.

Berjalan kaki menyusuri pematang sawah menjadi hal lazim yang dilakukan wisatawan untuk merasakan dan menyentuh langsung bulir-bulir dari tanaman padi yang eksotis ini.

Selain berjalan kaki di sepanjang pematang sawah, wisatawan juga bisa menikmatinya dengan bersepeda. Ada beberapa jalan setapak yang bisa dilalui dengan bersepeda.

Jalur ini mengantarkan wisatawan memasuki lebih jauh hamparan sawah yang segera panen dalam waktu dekat. Selain menikmati keindahan hamparan sawah, Anda juga bisa menyimak aktivitas warga setempat yang berjalan kaki mengusung daun kelapa kering atau menjunjung keranjang.

Bersepeda memberikan keleluasaan menyusuri jalan menurun atau menanjak mengikuti bentuk persawahan. Penyewaan sepeda di kawasan belum tersedia. Anda bisa membawa sepeda sendiri dan mengayuhnya dengan gembira sambil menikmati keindahan alam Jatiluwih.

Selain bersepeda menyusuri pematang sawah, Anda bisa menyusuri jalan aspal yang berliku, naik turun di sepanjang Desa Jatiluwih.

Jika belum puas bersepeda menyusuri petak sawah, wisatawan dapat menyusuri jalan setapak yang mengantarkannya memasuki hamparan sawah yang lebih luas lagi. Sepanjang perjalanan, hanya terpampang hamparan sawah dengan dihiasi beberapa pohon kelapa atau pondok kecil tempat beristirahat di tengah pematang sawah.

Padi Jatiluwih

Padi Jatiluwih tentu berbeda dengan tanaman padi yang biasa ditanam petani atau beras yang kita santap sehari-hari. Padi Jatiluwih adalah tanaman padi beras merah yang hanya ada di Jatiluwih dan beberapa desa lainnya di Bali. Namun, persawahan Jatiluwih menghadirkan pesona yang menakjubkan karena bentuknya yang berundak dan berliku mengikuti bentuk perbukitan.

Perjalanan yang panjang, berliku dan melelahkan langsung terhapus setelah menyaksikan hamparan sawah hijau yang membentang di atas perbukitan yang berkelok. Hempasan semilir angin yang turun dari Gunung Batu Karu memberikan kesejukan bagi jiwa dan raga.

Memasuki bulan Mei, hamparan sawah Jatiluwih mulai menyembulkan bulir padi yang mulai berwarna kehijauan keemasan. Kombinasi menghadirkan gradasi warna yang menarik antara bulir padi dengan batang daunnya yang hijau tua bagaikan hamparan karpet yang membentang di perbukitan.

Padi di Jatiluwih, mulai ditanam pada bulan Januari 2011 dan akan memasuki masa panen pada bulan Juni 2011. Selama satu tahun, petani di desa ini hanya menanam padi dalam sekali.

Padi yang ditanam adalah jenis padi beras merah yang menjadi unggulan padi di Jatiluwih. Kini, batang padi Jatiluwih telah setinggi satu mater. Beberapa petak sawah mulai menguning.

Persawahan Jatiluwih tak pernah habis menghadirkan cerita dan sensasi yang berbeda bagi pengunjungnya. Jika pada musim tanam, wisatawan menyaksikan petani membajak sawah dan menanam bibit padi, kini setelah mendekati musim panen, wisatawan mendapatkan panorama hamparan sawah yang berwarna hijau keemasan.

Jatiluwih selalu memberikan cerita yang mengesankan bagi wisatawan...

sumber: kompas.com

 

Jatiluwih, "Balinese Rice Terrace"

Bagaikan karpet hijau yang terhampar luas. Jatiluwih merupakan potret budaya dan alam Bali yang bersatu padu. Jatiluwih tenar di dunia karena panorama sawah berundak khas Bali. Wisatawan asing mengenalnya sebagai Balinese rice terrace.

Hampir di setiap daerah di Bali memiliki sawah berundak. Namun, Jatiluwih merupakan hamparan sawah mencapai lebih dari empat ratus hektar. Jatiluwih berada Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali. Hawa dingin menyambut Anda saat berkunjung ke Jatiluwih. Terang saja, karena Jatiluwih berada di dataran tinggi Gunung Batukaru.

Penebel merupakan salah satu daerah di Bali yang bertumpu pada sektor pertanian dan perkebunan. Salah satu komoditi yang dihasilkan adalah beras merah. Karena itu, sebagian besar sawah di Jatiluwih menghasilkan beras merah. Keunikan lainnya adalah sistem irigasi yang dipakai untuk mengairi persawahan ini.

Sama seperti di daerah lain di Bali, sawah-sawah ini menggunakan Subak. Subak merupakan organisasi petani yang mengelola saluran air untuk mengairi persawahan. Sistem ini digunakan masyarakat Bali secara turun temurun sejak sekitar satu milenium yang lalu. Sarat dengan tradisi gotong royong dan kekeluargaan.

Subak pun kental dengan upacara keagamaan mulai saat masa menabur benih hingga padi disimpan di lumbung. Mungkin Anda pernah menemukan sawah berundak di daerah-daerah lain di Indonesia. Namun, hanya di sawah-sawah khas Bali, Anda akan menemukan Bedugul di tengah-tengah sawah. Bedugul merupakan stana atau tempat pemujaan Dewi Sri atau simbol kesuburan.

Karena keunikan paduan alam, pertanian, dan budaya Bali yang kental, Jatiluwih masuk dalam nominasi warisan dunia UNESCO. Perlu waktu sekitar dua jam dari Kuta menuju Jatiluwih. Anda harus melewati perjalanan berkelok menembus gunung. Jadi, jika Anda tipikal orang yang mudah mabuk perjalanan, minumlah obat anti mabuk sebelum berangkat. Sepanjang perjalanan, Anda akan melewati pohon-pohon rindang khas hutan di pegununungan, rumah-rumah tradisional Bali, hingga pura desa. Suasana pedesaan khas Bali yang memikat.

"Inilah Bali yang sebenarnya. Sangat berbeda dengan Kuta, tempat saya menginap. Sawah di Jatiluwih benar-benar menakjubkan," ungkap Hannes, wisatawan asal Jerman yang sibuk berfoto di tengah sawah Jatiluwih. Sesuai namanya, "jati" yang berarti "benar-benar", dan "luwih" bermakna "indah", Jatiluwih mampu menyihir wisatawan dengan panorama yang benar-benar indah.

Lakukan lebih dari sekedar berfoto. Anda bisa turun ke pematang sawah dan berjalan-jalan berkeliling sawah. Pagi hari merupakan waktu yang cocok untuk melakukan "trekking" di sawah-sawah Jatiluwih. Menjelang siang hari, sering kali kabut mulai turun. Usai puas melihat panorama sawah, Anda bisa makan siang di wantilan. Wantilan adalah tempat berkumpul sebagai area pandang ke persawahan. Ada rumah makan di wantilan yang siap memanjakan perut Anda.

sumber: kompas.com


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 7+6+0