RSS Feed
timbul bhuana
image

Timbul Bhuana

greatest memories...


Jalan Kapten Sujana No, 1 Blahbatuh Gianyar Bali
telp/WA.: 081237592626
Fax. 0361 955276
email: timbulbhuana@gmail.com
PIN BB : 24d95305
Artikel Terbaru
SLINK

Pura Agung Kentel Gumi

Pura Agung Kentel gumi terletak di Desa Tusan Kecamatan Banjarangkan Kabupaten Klungkung. Pura ini sebenarnya merupakan kompleks Pura. Disini terdapat tiga buah Pura yaitu :

  1. Pura Agung Kentel Gumi, yang didalamnya terdapat 19 palinggih.
  2. Pura Maspahit, yang didalamnya terdapat 5 palinggih.
  3. Pura Masceti, yang didalamnya terdapat 7 buah palinggih.

 

Dalam babad Bandesa Mas disebutkan bahwa "...tibalah beliau dari Jawa, beliau bertahta sebagai raja, beristana di Silayukti Padang, disana kakak beliau Mpu Kuturan, dan Mpu Kuturan membangun Pura penataran Agung Padang, Pura di Goa Lawah, di Pura Dasar Gelgel, di Pura Kelotok dan Pura Agung Kentel Gumi, dengan demikian sempurnalah kedaan negara Bali."

Dalam Purana Pura Kentel Gumi disebutkan bahwa "...sampailah beliau (Dalem Samprangan) di tempat yang bernama Tusan. Sesudah sampai disini Raja berkehendak mendirikan Pura atau Kahyangan dan salah seorang pengiring yang bernama Arya Kenceng diberi tugas untuk memimpin pekerjaan tersebut. Diawali dengan membangun meru tumpang 11, kemudian Padmasana diteruskan dengan membangun meru tumpang 9 sebagai parahyangan Bhatara Mahadewa, meru tumpang 7 sebagai parahyangan Bhatara Sagara, meru tumpang 5 parahyangan Bhatara Batur, meru tumpang 3 sebagai parahyangan Bhatari Ulun Danu dan Bhatari Basun dari Dasar.

Piodalan di Pura Agung Kentel Gumi dilaksanakan setiap hari Kamis Umanis wara Dunggulan (Umanis Galungan).

 

Pura Agung Kentel Gumi sebagai ''Penyegjeg Jagat''

PADA tahun 980 (abad X), Mpu Kuturan mendirikan Pura Agung Kentel Gumi. Awalnya sangat sederhana. Kemudian diperluas kembali tahun 1350 oleh Sri Kresna Kepakisan yang berkedudukan di Samplangan. Perluasan itu dibantu Arya Kenceng sebagai arsiteknya.
Pembangunan pura diteruskan Dalem Watu Renggong (cucu Sri Kresna Kepakisan) yang berkedudukan di Gelgel dan tercatat sebagai Raja Bali I sekaligus yang menyelenggarakan karya panyegjeg jagat tahun 1480-1550. Selanjutnya, Pemkab Klungkung dikoordinir Pemprov Bali dibantu pemkab dan kota se-Bali mengadakan rehabilitasi total yang dilanjutkan dengan upacara panyegjeg jagat kedua tahun 2008.
Pura Agung Kentel Gumi berada di Desa Tusan, Banjarangkan, Klungkung. Merupakan salah satu pura khayangan jagat Bali, sungsungan umat Hindu sebagai stana Ida Sang Hyang Reka Bhuwana. Pura ini berfungsi sebagai tempat memohon kedegdegan jagat.
Sebagaimana dipaparkan dalam lontar Raja Purana Batur yang dikeluarkan Dalem Waturenggong sebagai Raja Diraja Bali tahun 1480-1550 masehi, intinya menyatakan Pura Agung Kentel Gumi merupakan Tri Gunaning Pura (Khayangan Tiga-nya Jagat Bali). Pura Batur/Tampurhyang sebagai Pura Desa-nya (mohon kesuburan), Pura Kentel Gumi sebagai Puseh (Kedegdegan Jagat) dan Pura Agung Besakih/Tohlangkir sebagai Dalem (kesucian sekala niskala). Dalam purana itu juga disebutkan, jika penguasa kurang melaksanakan persembahan di Pura Besakih, Batur, dan Kentel Gumi, akan kacaulah jagat Bali.
Terungkapnya fungsi Tri Guna Pura itulah yang menjadi salah satu dorongan melakukan pemugaran Pura Kentel Gumi (tahun 2008). Selain karena kondisi fisik bangunan, memang banyak yang sudah keropos. Pemugaran dilakukan dengan mempertahankan keaslian detail palinggih, tembok, serta corak dan ragam hias ukiran semirip mungkin dengan asli. Kalaupun ada tiruan, bahan dan garapan harus ditiru dari dokumentasi berupa foto-foto Pura Kentel Gumi yang masih tersimpan.
Pura Agung Kentel Gumi terdiri empat halaman utama. Utamaning utama mandala dengan 23 pelinggih seperti Lingga Reka Bhuwana/Pancer Jagat, Meru Tumpang Solas (palinggih Ida Sanghyang Reka Bhuwana). Di sisi utara (kompleks palinggih Batara Maspahit), terdiri atas enam palinggih. Palinggih utama Gedong stana Bathara Maspahit. Di sisi selatan, kompleks palinggih Batara Masceti, dan sembilan palinggih lannya. Lumbung Agung/tempat penetegan.
Di Madya Mandala (tengah) terdapat empat palinggih, salah satunya Bale Agung, Gedong Sari stana Batari Saraswati. Di nista mandala (jaba sisi/luar), ada dua Padmasari. Palinggih-palinggih itu bagian dan perluasan Pura Agung Kentel Gumi, yang diawali Mpu Kuturan masa pemerintahan Raja Bali Kuna dan dinasti Warmadewa yakni Raja Udayana Warmadewa dengan permaisuri Putri Mahendradatta.
Purana mencatat, setelah Mpu Kuturan, Pura Kentel Gumi diperluas dengan pembangunan palinggih, menyusul berkuasanya Sri Haji Cili Kresna Kepakisan (bungsu Danghyang Soma Kepakisan) yang diminta Mahapatih Gajah Mada/Majapahit menjadi adipati Bali pasca kalahnya Raja Sri Tapolung di Bedahulu.
Pura Agung Kentel Gumi di-empon enam desa pakraman sebagai pamucuk dan 24 desa pakraman se-Kecamatan Banjarangkan sebagai pangerombo. Di pura itu dilaksanakan dua yadnya yakni rainan nyabran dan di luar nyabran (berskala besar) seperti pujawali (setiap Umanis Galungan), ngusaba jagat (setiap purnama kelima) dan panyegjeg jagat setiap purnama kelima (sekali dalam sepuluh tahun).
''Pura Agung Kentel Gumi merupakan tri gunaning pura yang merupakan pusehnya jagat Bali tempat berstananya Sang Hyang Reka Buwana atau Siwa Pasupati,'' ungkap Ida Padanda Gede Putra Bajing dari Geria Tegal Jingga Denpasar saat menghadiri pertemuan membentuk panitia karya Ngusaba Jagat di Pura Kentel Gumi, Sabtu (3/9) lalu. Sejumlah bendesa dan prajuru adat serta tokoh lainnya berkumpul dalam pertemuan itu dalam rangka membicarakan persiapan karya Ngusaba Jagat yang akan berlangsung November 2011.
Karya Ngusaba Jagat merupakan karya tahunan yang digelar di pura khayangan jagat tersebut setiap Purnama Kelima. Hadir juga dalam pembentukan panitia Ida Dalem Semaraputra selaku panganceng Pura Kentel Gumi, sulinggih selaku pengarah, mantan Wakil Bupati Klungkung Ngakan Gede Bawa, panitia Pura, Dewa Made Siangan dan lainnya.
Dewa Made Siangan menyebutkan, Ngusaba Jagat merupakan salah satu dodunan upacara yang wajib dilaksanakan di Pura Agung Kentel Gumi. Dia berharap, terlibatnya semua pihak terkait dalam pelaksanaan karya Ngusaba Jagat. Termasuk peran pemerintah selaku guru wisesa ikut terlibat dalam pelaksanaan karya tersebut.
Ditambahkan, selain upacara Ngusaba Jagat setiap Purnama Kalima, ada sejumlah aci lain dilaksanakan di Pura Agung Kentel Gumi. Upacara tersebut yakni pujawali yang berlangsung setiap Umanis Galungan. Sementara karya Ngusaba Jagat baru dua kali dilaksanakan dalam rentang waktu 500 tahun. Pertama pada zaman Dalem Watu Renggong (1480 -1550) dan tahun 2008 lalu.


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 2+4+9