RSS Feed

Pura Samuan Tiga

 

Pura Samuan Tiga terletak di Desa Bedulu Kecamatan Blahbatuh Kabupaten Gianyar. Dari namanya sudah memberikan kesan bahwa tempat ini pernah terjadi pertemuan atau rapat segit tiga, dimana merupakan peristiwa penting dalam sejarah Bali.

Nama Samuan Tiga berasal dari kata 'samua' yang berarti 'sangkep' atau rapat atau pertemuan dan 'tiga' berarti 3 unsur atau peserta. Dengan demikian 'samuan tiga' dapat diartikan sebagai pertemuan segitiga, atau pertemuan 3 unsur.

Peristiwa penting ini terjadi pada masa pemerintahan Raja Udayana Warmadewa dengan permaisuri Gunaprya Dharmapatni yang berkuasa di Bali antara tahun 988 sampai dengan 1011 M. Pada masa itu penduduk Bali mayoritas adalah orang-orang Baliaga penganut agama Hindu dari berbagai macam sekte.  6 Sekte terbesar adalah Sekte Indra, Bayu, Kala, Brahma, Wisnu dan Syambhu. Tentu saja dalam pelaksanaan keagamaan semua sekte itu berbeda-beda. Perbedaan ini kerap menimbulkan pertentangan dalam masyarakat sehingga terjadi pertikaian antara umat.


Akhirnya Raja Udayana dan permaisuri mengundang tokoh-tokoh agama Hindu di Jawa untuk menyelesaikan masalah ini. Akhirnya diundang 4 orang dari 5 orang bersaudara yang biasa disebut dengan Panca Pandita. Mereka adalah :

  1. Mpu Semeru, pemeluk agama Siwa tiba di Bali tahun Isaka 1921 (999 M) berparahyangan di Besakih.
  2. Mpu Ghana, penganut agama Ghanaptya tiba di Bali tahun Isaka 922 (1000 M) berparahyangan di Gelgel.
  3. Mpu Kuturan, pemeluk agama Budha tiba di Bali tahun 923 (1001 M) berparahyangan di Silayukti.
  4. Mpu Gnijaya, pemeluk agama Brahma tiba di Bali tahun Isaka 928 (1006 M) berparahyangan di Lempuyang.

Saudara yang paling bungsu adalah Mpu Bradah tinggal di Jawa Timur berparahyangan di Lemahtulis Pajarakan.

Dalam pertemuan segi tiga yang diadakan di desa Bataanyar (bedulu) itu dipimpin oleh Mpu Kuturan, dihadiri oleh perwakilan dari sekte-sekte yang ada di Bali yaitu:

  1. Sekte Budha,
  2. Sekte Siwa,
  3. 6 Sekte yang dianut oleh warga Baliaga

Dalam pertemuan itu disepakati menyederhanakan agama di Bali dengan menggunakan konsep 'Tri Murti' atau 'Tri Tunggal' yaitu semua umat memuja Tuhan dalam manifestasi sebagai Dewa Brahma, Dewa Wisnu dan Dewa Siwa sebagai inti dari sistem keagamaan di Bali yang dianggap dapat mewakili semua sekte yang ada, sedangkan nama agama di pakai agama Siwa-Budha. Kesepakatan itu akhirnya menjadi keputusan Kerajaan.

Dalam pertemuan segi tiga tersebut melahirkan istilah Desa Pakraman yaitu sebuah desa yang memiliki otoritas adat dan agama.

Sejak saat itu ditetapkan setiap Desa Pakraman membangun tiga buah Pura sebagai tempat pemujaan ketiga Dewa diatas. Pura tersebut adalah:

  1. Pura Desa untuk memuja Dewa Brahma dalam fungsi sebagai pencipta alam semesta.
  2. Pura Puseh untuk memuja Dewa Wisnu dalam fungsi sebagai pemelihara alam semesta.
  3. Pura Dalem untuk memuja Dewa Siwa dalam fungsi sebagai pemralina alam semesta.

Ketiga pura diatas disebut dengan Kahyangan Tiga.

 

 


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 3+2+2