RSS Feed
timbul bhuana
image

Timbul Bhuana

greatest memories...


Jalan Kapten Sujana No, 1 Blahbatuh Gianyar Bali
telp/WA.: 081237592626
Fax. 0361 955276
email: timbulbhuana@gmail.com
PIN BB : 24d95305
Artikel Terbaru
SLINK

Galeri Kuliner

image

Sengatan Nasi Campur Men Weti

Nasi campur khas pulau dewata ini sangat legendaris. Dulu, kalau mampir ke pantai Sanur harus jajan nasi racikan Men Weti ini. Lauknya beragam, dari jukut urap, suwir ayam, ikan tuna pedas plus kerupuk kulit ayam. Sengatan pedasnya makin terasa nikmat saat nasi disuap dengan tangan. Hmm... dangerously delicious!

Saat pantai Kuta belum sepopuler sekarang, pantai Sanur merupakan lokasi ideal buat menikmati matahari terbit. Kehangatan sinar mentari pagi ini memang paling pas diiringi dengan sarapan yang menyegarkan dan menarik semangat. Nasi Pantai demikian julukan populer nasi racikan Men Weti yang berlokasi di Jl. Segara Ayu Sanur.

Warung Men Weti yang sederhana nyaris tak pernah lengang oleh antrian pengunjung. Ukurannya yang kecil tak jadi penghalang bagi pengunjung mampir. Pengunjung yang biasanya selesai bermain di pantai Segara dengan perut kosong tentunya bakal tergiur dengan seretan baskom dan piring lebar berisi aneka lauk-pauk.

Jika sedang padat pengunjung, antrian bisa memakan waktu sampai 30 menit. Tetapi aroma dan rasa dahsyat lauk khas bu Weti ini bikin orang ketagihan dan rela antri seperti saya. Lauk yang dijajarkan banyak ragamnya. Ayam betutu, sate lilit, telur bumbu tomat pedas, jukut urap, ikan berbumbu, daun ubi bumbu cabai, kacang tanah goreng, kulit ayam goreng dan sambal matah.

Akhirnya saya menerima pesanan sepiring nasi campur. Nasi putih kelilingi aneka lauk. Seperti  ayam betutu, dari ayam kampung yang empuk gurih dan pedas segar. Ayam goreng berwarna cokelat keemasan dan ikan pindang awan, ikan laut direbus kemudian digoreng kembali kemudian dicampur bumbu pedas. Kuah dari ikan pindang ini terkenal di Bali sebagai salah satu bahan utama rujak kuah pindang.

Jukut urap yang selalu jadi lauk wajib. Tersiri dari rebusan kacang panjang, bayam, tauge yang dicampur dengan parutan kelapa bakar. Aromanya wangi segar dan taburan kacnag tanah goreng bikin rasanya crunchy enak di lidah!

Telur rebus yang diselimuti sambal tomat cabai yang kemerahan juga tak kalh sedap. Sedikit asam dan pedas rasanya. Suapan nasi campur ini paling pas dilakukan dengan jari jemari tangan. Adukan nasi dengan lauknya terasa lebih menyatu. Di mulut pun terasa sensasi pedas menggigit, gurih, crunchy yang sungguh alami.

Rasa pedas nasi campur ini dipicu oleh sambal matah khas Bali. Sambal ini terbuat dari cabe yang dipotong kecil dicampur garam kemudian digoreng dengan minyak kelapa murni hingga cabe sedikit layu tapi tetap segar saat digigit. Sambal ini sebelum disajikan dicampur dengan bawang goreng gurih dan renyah.

Yang menjadi ciri khas nasi bu Weti ini adalah kulit ayam yang renyah gurih yang jadi salah satu favorit pengunjung. Rasanya kriuk renyah menambah sensasi lezat dan ramai di lidah saat dikunyah. Wah, butiran keringatpun mulai memenuhi dahi. Sengatan bumbu cabai nasi campur ini terasa enak dan mantap di lidah meskipun berakhir dengan rasa panas di lumut.

Hmm...pagi yang hangat terasa makin segar setelah mengudap nasi Men Weti sebagai sarapan. Semilir angin pantaipun muali terasa hangat karena matahari meninggi. O,ya buat menebus kenikmatan ini saya cukup membayar Rp. 15.000,00. Tentu saya bakal kembali lagi!

referensi:

http://food.detik.com

 

Mencicip Salad Organik dan Nasi Campur di Cafe Batu Jimbar Sanur

Jika Kuta bernuansa hura-hura, Seminyak menjadi pusat villa dan butik-butik eksklusif, Nusa Dua pusatnya kegiatan MICE dan hotel-hotel mewah, maka Sanur adalah the Real Bali. Bagi yang ingin  merasakan tinggal dan berbaur dengan masyarakat Bali dalam kesehariannya, Sanurlah tempatnya.

Hal ini dapat dilihat dari para turis mancanegara yang bertandang ke sana, mereka umumnya keluarga dan sudah merumur senja, mapan,  dan dengan waktu tinggal yang lama, dari 2 minggu hingga sebulan.  Mereka tinggal di Sanur dan bersantai, berbaur dengan masyarakat sekitar dan menjadi titik mulainya perjalanannya menjelajah Bali.

Sanur yang jauh hiruk pikuk dan lebih tenang suasananya juga dikenal dengan berbagai tempat wisata kulinernya. Dari mulai warung makan tradisional hingga beraroma modern macam resto dan cafe dapat ditemui di berbagai sudut Sanur. Salah satunya adalah Cafe Batu Jimbar.

Cafe yang berada di jalan Danau Tamblingan ini sudah berdiri sejak tahun 1991. Awalnya dibuka sebagai warung makan sederhana, karena semakin ramainya pengunjung, maka di tahun 2006 pindah ke lokasi sekarang dengan bangunan yang lebih luas.  Dengan 40 meja yang tersebar di dalam maupun di teras cafe, meja dan lantai kayu serta beberapa sofa di dalam, menjadikan cafe ini pilihan berbagai suasana hati para pengunjungnya.

Suasana santai terlihat saat siang, beberapa turis manca negara melewatkan makan siang sambil bercengkrama dengan kerabatnya. Jika malam, Cafe ini semakin meriah dengan tampilan live music. Alunan musik Jazz setiap kamis malam dan Salsa setiap Selasa dan Sabtu malam, menambah suasana Cozy untuk melewatkan malam di Sanur.

Sajian menu Cafe Batu Jimbar juga menjadi favorit para turis jika bertandang ke Sanur. Batu Jimbar Salad selalu menjadi pilihan para pengunjung di sini.  Sajian sayur mayur organik dengan mayonaise serta roti Garlic menjadi pemuas lapar terutama untuk para pengunjung yang sudah terutama yang sudah berumur.

Selain itu Nasi Campur juga menjadi andalan Cafe Batu Jimbar.  Telor Balado, Daging Sapi Kalio, Ikan Bumbu Bali, Ayam Bumbu Bali, Tumis Sayur Pakis campur Jagung manis, disajikan bersama dengan Sambal, Tomat segar dan Timun serta ditemani Krupuk. Menu campurannya pun berubah setiap harinya, sehingga Nasi Campur Batu Jimbar selalu memberi kejutan selera bagi para penggemarnya di sini.

Belum lagi menu pencuci mulutnya, ada cake dan es krim bermacam rasa atau kopi berbagai jenis. lupa juga dengan minuman favorit di sini, Tangerine Juice-Batu Jimbar Most Wanted . Semua itu menjadikan Cafe Batu Jimbar selalu menjadi tempat para wisatawan untuk memuaskan seleranya dengan menu yang diterima oleh semua kalangan, turis maupun wisatawan Nusantara. Jadi jika Sanur pilihan wisata Anda di Bali, jangan lupa masukkan Cafe Batu Jimbar menjadi tempat wisata kuliner dalam jadwal Anda.


sumber : http://tourismindonesiaonline.com


Icip-Icip Sate Lilit Be Paseh

Berlibur ke Bali tak lengkap rasanya jika hanya menikmati eksotiknya Pulau Dewata. Kuliner Bali yang lezat dan khas pun sayang untuk dilewatkan begitu saja termasuk si sate lilit. Apalagi yang satu ini rasanya wuih... memang istimewa!

Bali masih merupakan surga bagi para wisatawan lokal maupun mancanegara. Pulau Dewata nan eksotik ini pun menyimpan sejumlah kekayaan kuliner yang tak bisa dipandang sebelah mata. Salah satunya adalah dimana lagi kalo bukan di warung Be Sapeh.

Warung yang terletak di daerah Renon Denpasar ini memang merupakan tempat yang pas untuk bersantap aneka sajian ikan laut. Tempatnya sangat asri, nyaman, dan dilengkapi dengan gazebo-gazebo. Ada live music dan juga fasilitas free hot spot yang bisa dinikmati oleh seluruh pengunjung.

Sesuai dengan namanya 'be paseh' yang berarti ikan laut, tempat ini menyediakan berbagai macam makanan khas laut. Sebut saja sate lilit, sop ikan, pepes ikan, paket ikan bakar & goreng, steak ikan dan pepes ikan serombotan. Dan untuk pelengkapnya pengunjung dapat menikmati juga sensasi pedas sambelnya.

Salah satu makanan yang menarik pula untuk dicicipi di warung ini adalah sate lilitnya. Sate lilit itu pula yang menjadi alasan saya berkunjung ke Be Paseh. Untuk pelengkap ada sambel mentah, sambel kacang, sambel sereh atau sambel plecingnya yang juga bisa ikut dicoba.

Sate lilit ini terbuat dari bahan dasar ikan cincang dilembutkan, diberi bumbu, santan, dan parutan kelapa, barulah dililitkan dalam sebatang bambu dan kemudian dibakar diatas arang. Hmm... rasa daging ikan segarnya dominan terasa ditambah dengan bumbu rempah yang menggigit. Membuat lidah saya menari-nari menikmati tusuk demi tusuk sate ikannya.

Wah... apalagi ditambah dengan pedasnya sambel sereh, plecing kangkung dan nasi hangat rasanya mantabbb banget. Habis kepedesan jangan lupa nikmati es kelapa muda pandan wangi. Jika mau coba aneka minuman lainnya seperti es daluman (cincau)dijamin suegerrr dan hilang seluruh dahaga.

Selesai bersantap jika sate lilit ini mau dibawa pulang untuk oleh-oleh juga bisa loh. Pesan saja 1 paket sate lilit yang enak ini. Jangan khawatir Semua menu makanan di warung ini harganya tdk terlalu mahal dan pas di kantong. Kalau berlibur ke bali jangan lupa ya mampir ke warung Be Paseh dan nikmati lezatnya sate lilit yang lezat dan menggoda.

sumber :http://food.detik.com/


Uniknya Oebi dan Wagyu Teppanyaki Racikan Genji

Teppanyaki di tempat ini populer di kalangan penggemar makanan Jepang. Bahannya sangat segar dengan beberapa saus racikan sang chef yang unik dan mengelus lidah. Buktinya teppanyaki oebi dan wagyunya benar-benar bikin ketagihan!

Nama resto ini mengingatkan saya akan 'Genji Monogatari' sebuah novel sejarah kekaisaran Jepang yang ditulis oleh Murasaki Shakibi. Karena keindahan cerita dan tokoh-tokohnya novel ini jadi karya sastra ternama di Jepang. Tak heran jika nama 'Genji' dipakai sebagai nama resto yang berinterior klasik Jepang ini.

Teppanyaki, salah satu hidangan klasik Jepang merupakan unggulan resto yang berlokasi di lantai dasar Ayodya Resort Bali. Cara pemasakan yang sederhana, dengan sedikit minyak membuat sajian ini menjadi lebih sehat. Apalagi di daftar menu ada sejumlah pilihan teppanyaki yang menarik.

Selain Australian Wagyu, ada lobster, salmon, kajiki maguro, dan oebi. Buat penggemar sayuran ada moyashi (tauge besar), yashai mori (campuran sayuran), konoki mori (aneka jamur). Area teppanyaki ini berada di bagian depan resto. Karenanya aroma wangi teppanyaki tercium menusuk hidung, sangat menggoda!

Setelah duduk di depan area masak, pelayan melengkapi kami dengan celemek khusus agar baju tetap bersih saat makan. Sambil menanti teppanyaki disiapkan oleh sang koki, seporsi salad sayuran dan Ebi Tempura sushi menjadi pilihan untuk pembuka. Sushi disajikan dengan tampilan agak berbeda.

Sushi gulung ini dilapisi serutan halus kentang goreng yang terlihat sangat renyah. Isinya tempura udang, kyuri (timun hijau) dan asparagus hijau. Yang unik justru lapisan serutan halus kentang gorengnya. Rasanya krenyes renyah dan ringan. Sementara bagian dalamnya juga renyah-renyah segar!

Sensasi istimewa segar juga saya temui pada salad sayuran yang terdiri dari lettuce, kyuri, kol merah, wortel dan bawang bombay yang diserut halus. Saus salad khas Jepang yang terdiri dari minyak sayur, bawang putih dan bawang bombay yang diparut halus, shoyu, air jeruk lemon dan merica ini rasanya sungguh menyegarkan.

Suara panggangan teppanyaki yang berdesis membuat kami mengalihkan perhatian pada sang koki. Oebi ( Japanese scallop), Australian Wagyu dan potongan gindara dan cumi sudah disiapkan dalam piring. Khusus untuk gindara dan cumi dilengkapi dengan potongan herb butter. Inilah keunggulan tepannyaki, selain sederhana bumbunya, proses pembuatannya yang langsung di depan mata memberi sensasi tersendiri. Lebih asyik menikmati proses masakan disiapkan oleh koki.

Tek.. tok.. tek.. bunyi spatula besi yang beradu di atas panggangan dan aroma wangi bawang yang berdesis benar-benar membuat makin tak sabar untuk mencicipinya. Keunikan teppanyaki di Genji ini terletak pada sausnya. Saus untuk bahan daging dan seafood diracik dengan bumbu berbeda.

Khusus untuk seafood dipakai uni sauce. Saus yang gurih ini memakai bawang putih, bawang bombay dan mentega sehingga aromanya sangat wangi. Untuk aksen rasa, ditambahkan merica bubuk sehingga gurih pedas. Cocok dengan seafood yang gurih. Apalagi oebi, scallop segar yang tebal benar-benar terasa manis empuk. Jejak karamel di permukaannya memberi rasa gurih manis yang menggoyang lidah!

Sedangkan untuk beef atau daging sapi, saus yang dipakai lebih beraksen manis segar sedikit asam karena memakai nanas dan apel dalam racikan bahannya. Ditambah rasa shoyu yang kuat plus biji wijen yang wangi. Beef teppanyaki ini makin sempurna lezatnya.

Bokchoy, jamur shiitake, moyashi dan jamur enaoki yang melengkapi sajian teppanyaki ini. Tak heran jika perut terasa kenyang. Karena itulah tawaran dessert
yang menggiurkan juga tak bisa kami tampung lagi. Suasana yang santai dan ngobrol dengan sang koki bikin acara menyantap teppanyaki jadi lebih asyik dan seru!

Sumber: http://food.detik.com/


Telur Ayam Asin, Unik dan Enak!

Jika biasanya telur asin terbuat dari telur itik atau bebek, yang satu ini sedikit unik karena terbuat dari telur ayam. Tampilannya kulit luarnya berwarna kecoklatan dengan permukaan berlumur garam. Apa keunikan dari telur asin yang satu ini?

Siapa yang tak kenal telur asin? Telur asin memang nikmat dipadukan dengan berbagai lauk-pauk dan sambal saat makan. Umumnya telur asin berwarna kehijauan dan terbuat dari telur itik atau bebek. Proses pembuatan telur asin terbuat dari telur bebek mentah yang kemudian dimasukkan ke dalam wadah yang berisi batu bata dan abu gosok. Kemudian diberi air dan garam secukupnya. Konon makin banyak garam yang ditambahkan maka makin awet pula telur tersebut.

Setelah telur diaduk beberapa lama lalu setiap telur akan dibungkus dengan adonan tersebut. Di pasar-pasar tradisional tak jarang kita menemukan telur asin yang dijual masih berlumur dengan adonan batu bata dan abu. Lain halnya dengan telur asin yang dijual di supermarket karena sudah dibersihkan tentunya.

Nah, meski tak sepopuler telur asin bebek kini banyak beredar pula telur ayam asin. Kalau telur ayam asin ini sedikit berbeda karena proses pembuatannya hanya dengan direndam dengan adonan garam berbentuk padat atau kering. Meski ada pula selain garam ditambahkan ekstrak teh. Saat dijual terkadang permukaannya masih berselimut butiran garam halus.

Saat dibelah dua, bagian dalamnya tidak kuning oranye dan berminyak seperti pada telur asin bebek, melainkan kuning biasa seperti telur rebus dan tak berminyak. Warnanya sedikit kecoklatan mirip telur pindang, saat dimakan rasanya asin-asin gurih dan enak karena asinnya pas. Bagi yang tidak suka rasa telur bebek asin yang rasanya asinnya terlalu asin sekali, nah telur ayam asin ini bisa jadi alternatif pilihan.

Telur ayam asin sudah banyak dijumpai di berbagai rumah makan khususnya di Bali. Telur ayam asin ini dihargai Rp 1500,00 - Rp 2000,00 per buah. Nah, berminat mencobanya?



Dibuai Lezatnya Valrhona Chocolate dan Home Made Burger

 
 
Mampir ke tempat ini harus membuang jauh-jauh program diet. Karena ada beragam chocolate truffle, chocolate cake, quiche, aneka roti dan keju. Home made burger yang tebal dengan roti yang empuk wangi jadi menu makan siang yang mantap. Apalagi ditutup dengan aneka potongan keju plus segelas white wine. Hmm... yummy!

Karena sudah beberapa kali nama Gourmand Deli dipromosikan oleh teman-teman saya, maka siang itu sayapun memutuskan untuk mampir. Berlokasi di lantai dasar The St. Regis Resort Bali, dekat dengan area lobby. Tempat ini merupakan deli & cake shop sekaligus tempat ngopi dan makan.

Hmm... begitu memasuki outlet berdinding kaca ini aroma wangi kue beradu dengan kopi langsung menyergap hidung. Lemari kaca panjang yang berisi aneka macaroon warna-warni, aneka chocolate truffle langsung memikat mata. Apalagi ada lemari freezer berisi aneka ice cream shorbet dan chocolate fountain pun dipajang di atas lemari.

Saat mencicipi sepotong strawberry yang dicocol dengan cokelat leleh, saya langsung melacak jejak cokelat Valrhona yang pekat dan tidak manis. Ternyata dugaan saya tak salah. Sang Pastry Chef Vincent membenarkan bahwa semau produk cokelat di St. Regis memakai cokelat Prancis, Valrhona.

Di sisi lain ada aneka quiche yang bisa dipesan per potong. Racikan salad yang bisa dipesan khusus, juga aneka cold cut, beragam daging olahan, dan keju yang ditaruh dalam lemari pendingin. Pastry dan rotipun tak kalah menggiurkan dari danish pastry baquette, focaccia dan white bread. Wah, saya makin bingung menentukan pilihan!
sampai
Saat duduk di area terbuka yang ada di depan Gourmand Deli, tiupan angin sejuk terasa sepoi-sepoi di tengah siang yang terik. Daftar menu yang disodorkan pelayan, makin membuat saya tergoda. Pilihan buat makan siang praktis sangat beragam. Mulai dari aneka sandwich yang agaknya jadi andalan, pasta, hingga kewtiau, hainan chicken rice dan nasi goreng. Bahkan paket picnic basket pun tersedia.

Tasmanian House Smoked Salmon dan St. Regis Burger akhirnya menjadi pilihan sajian utama. Irisan ikan salmon Tasmania yang diasap dengan kayu pohon apel disajikan di atas piring datar. Dilengkapi dengan capers, irisan jeruk lemon, horseradish cream dan beberapa iris baquette.

Rasa lembut daging ikan salmon dengan aroma asap lamat-lamat yang wangi makin enak saat disuap dengan capers yang asam dan saus horseradish yang gurih asam. Baquette yang renyah gurihpun menjadi paduan yang pas buat santapan yang mantap ini. Tidak terlalu berat tetapi menyehatkan.

Beda dengan St. Regis Burger yang tampilannya memukau. Bun burgernya cukup besar dengan taburan biji wijen. Burgernya terbuat dari daging sapi black angus, ditutup dengan selembar keju yang meleleh, diberi saus mayones, irisan tomat, dan daun selada. Disajikan dengan gherkin, irisan tomat, chutney tomat dan french fries yang berpotongan besar.

Bagian luar burger terasa renyah, sementara bagian dalam dagingnya teras juicy empuk. Nyam nyam... benar-benar mantap karena burgernya setebal 2cm lebih. Bun burgernya empuk dan wangi karena dibuat fresh. Apalagi french fries yang dibikin sendiri, bukan hanya tebal gurih tetapi juga garing enak. Wouw... porsi burger ini benar-benar lezat hingga gigitan terkahir dan sangat mengenyangkan!

Karena berniat melupakan diet, maka shorbet dan home made ice creampun jadi target berikutnya. Tiba di depan lemari pendingin, o la la saya kembali bingung menentukan pilihan. Ada violet and blueberry, cinnamon and raspberry, toffee marble, pistachio cherry, rum raisin, mascarpone, dan passion & banana shorbet. Semuanya menggiurkan.

Es krim Violet Blueberry pun langsung terasa lembut gurih, dengan rasa susu dan krim yang kuat. Diselingi blueberry yang asam segar. Benar-benar jadi pembilas yang pas. Sepotong chocolate cakepun akhirnya menjadi penumpas rindu saya akan Valrhona.
Lapisan cokelat lelehnya mengkilap dengan sponge chocolate cake berlapis krim cokelat. Aduhai.. lembut legit membelai lidah!
Pertahanan diet yang sudah jebolpun saya tutup dengan sepiring aneka keju Australia dan Prancis yang disajikan dengan anggur hitam, cracker dan manisan peach. Rasa lembut gurih kejupun beradu serasi dengan renyah manis anggur hitam. Sebagai pembilas (yang benar-benar akhir), segelas Australian Pinot Chardonnay dingin menjadi penutup yang sempurna siang itu.

Kalau ingin melewatkan Valentine dengan memanjakan diri, tempat ini bisa jadi pilihan yang tepat. Hanya satu syaratnya, lupakan diet dan bersantaplah dengan suasana santai. Bon apetite!


Seafood Platter Lezat di Tepian Pantai yang Romantis

Dalam menu seafood platter ini beragam hidangan laut segar bisa dicicipi. Ada ikan, cumi, dan udang bakar serta lobster yang makin lezat saat dicelup lemon butter sauce.
Segelas jus sehat pun menjadi pendamping pas santap siang di tepian pantai ini!
Laut dan seafood - keduanya memang tidak dapat dipisahkan. Salah satu restoran yang memadukan kelezatan seafood dan keindahan pantainya adalah Ocean Terrace. The Laguna Resort & Spa yang berada di kawasan Nusa Dua, Bali.
Restoran teduh dengan pemandangan pantai ini terletak di dalam
Perjalanan dari lobby hotel menuju Ocean Terrace memberikan kesenangan tersendiri. Jalan setapak yang kami lewati menyuguhkan pemandangan hijau rerumputan, langit biru, dan sesekali tupai yang mengintip dari balik pepohonan membuat resort ini tampak sangat alami.

Ocean Terrace merupakan salah satu bangunan yang terletak di sisi kolam renang dan sekaligus menghadap ke arah pantai. Suasana restoran dibuat tampak santai, di area tengah terdapat bar tempat meracik aneka minuman. Kursi-kursi ditempatkan di bagian dalam dan sebagian lagi dijejerkan di area luar tepat di hamparan pasir putih dan naungan pohon-pohon kelapa. Bisa dibayangkan saat malam hari tempat tersebut berubah menjadi tempat makan yang cukup romantis.

Sengaja saya dan pasangan mengambil tempat di salah satu sudut yang cukup teduh. Dari tempat duduk kami bisa melihat birunya air laut dan para tamu yang sedang berenang. Bahkan saya pun hampir tergoda untuk mencelupkan kaki sejenak di air laut yang dingin.

Ocean Terrace menawarkan menu a la carte dengan live seafood sebagai menu speciality vegetarian pizza pun tersedia bagi para vegie lovers. -nya. Tidak hanya seafood, menu tradisional seperti bebek goreng, sop buntut, dan ayam taliwang pun siap memanjakan lidah. Ada aneka jenis ravioli, spaghetti bagi penggemar pasta dan juga aneka menu grill. Menu serba sayuran seperti salad atau

Sambil menunggu pesanan, sepotong ciabatta bread disuguhkan lengkap bersama butter. Ini dia yang saya tunggu-tunggu, saat disobek dengan tangan, hmm... roti Italy yang disajikan hangat-hangat ini terasa begitu lembut. Permukaannya sedikit crispy butter yang gurih pada permukaan roti membuatnya makin lezat.
liat kontras dengan bagian dalamnya yang lembut. Sapuan tipis
Warm Chicken & King Prawn Salad
menjadi menu appetizer kami. Salad ini berisi lettuce, grill tomato , irisan zukini, dan alfalfa yang dicampur dengan grilled chicken dan king prawn. Jejak gosong di bagian permukaan daging ayam dan udang menciptakan aroma smokey yang menggugah selera.

Yang saya suka daging ayam panggangnya tetap terasa juicy saat digigit alias tidak kering, sedangkan udangnya terasa manis dan kenyal segar. Dressing salad bergaya Thai yang sedikit asam-asam pedas menciptakan sensasi enak segar di lidah. Tak butuh waktu lama untuk mengeksekusi appetizer yang lezat ini.

Hidangan utama kami berupa Seafood Platter (for two). Seperti namanya menu ini yang tediri dari aneka seafood segar komplet yang pas dimakan untuk berdua. Sepiring besar udang, cumi, ikan, dan lobster dihidangkan bersama sambal terasi dan lemon butter sauce dalam wadah terpisah.

Dari buku menu saya mengetahui bahwa aneka live seafood ini diambil dari para nelayan lokal setempat. Ada sekitar empat potong udang king prawn, cumi yang dipotong-potong seperti cincin, dan seekor ikan kerapu sedang kesemua seafood tersebut dibakar dengan bumbu spesial. Sedangkan lobster dibelah dua dan disajikan dalam wadah terpisah masih dalam piring yang sama.

Udang bakar dan lobster yang harum saya nikmati dengan cocolan lemon butter sauce yang gurih-gurih asam. Dagingnya yang kenyal dengan sensasi manis segar benar-benar lezat! Si cumi juga empuk dan tanpa perlawanan saat dikunyah. Untuk ikan bakar, bumbunya meresap dan pas dicocol dengan sambal terasi yang pedas. Makin enak saat disuap ke mulut bersama nasi putih hangat-hangat yumm...!

Sebagai ending, segelas detox juice berwarna oranye cerah yang terdiri dari campuran wortel, lime, dan madu plus sensasi jahe menjadi penutup yang sempurna. Kami menyesap perlahan minuman bersama sepotong tiramisu lezat beroma kahlua dan kopi sambil menikmati ketenangan alam dan menyambut matahari terbenam.

O ya, bagi pencinta seafood setiap malam Ocean Terrace juga mengelar Seafood BBQ Valentine's Day Ocean Terrace bisa menjadi alternatif pilihan buat mereka yang ingin memanjakan diri bareng si dia.
bisa menikmati mulai pukul 19.00WITA. Atmosfir hangat dan teduh tempat ini  juga cocok bagi para pasangan yang ingin menikmati 'me time'. Berhubung sudah dekat...


Gurami Goreng Krenyes Plus Sambal Matah

Bakery ini tidak hanya menjual aneka roti. Cafe yang ada di dalamnya juga menawarkan makanan lokal maupun internasional. Sebut saja ayam kremes atau gurami goreng yang renyah krenyes plus cocolan sambal matah. Buat yang ingin menikmati satu atau dua gelas minuman, lounge dan bar di lantai atas juga bisa jadi pilihan!

Lantaran pengen makan roti, tanpa sengaja saya menemukan Baker's Corner yang terletak di Jl. Teuku Umar, Denpasar ini. Dari luar tempat ini layaknya sebuah bakery biasa. Namun banyaknya pengunjung yang memadati area parkir membuat saya jadi sedikit penasaran.

Di bagian depan, pengunjung disambut dengan bakery yang cukup luas plus etalase-etalase kaca tempat menaruh aneka jenis roti dan cake. Roti yang ditawarkan oleh Baker's Corner bergaya Jepang dengan tampilan yang cukup menggugah selera. Tapi yang lebih menarik perhatian saya adalah cafe yang ternyata cukup ramai dengan pemandangan orang bersantap. Letaknya persis di sebelah area bakery, hanya dibatasi sebuah sekat kaca.

Berhubung kunjungan saya tepat pada saat makan malam, tak ada salahnya sekaligus menikmati makan malam pikir saya. Ternyata keputusan saya tepat, sebab pilihan yang ditawarkan di cafe ini cukup banyak. Mulai dari menu internasional seperti aneka steak, ribs, chicken parmigiana, salmon teriyaki, aneka salad, hingga makanan lokal seperti bebek, gurami goreng, ayam kremes, sop buntut, soto ayam, dan lain-lain.

Pilihan saya jatuh pada gurami goreng dan ayam kremes untuk teman saya. Rupanya hampir setiap sajian merupakan menu paket yang dihidangkan lengkap dengan nasi, sayuran, dan sambal. Untuk minumnya segelas Strawberry Cruch yang asam segar jadi pilihan.

Kedua menu disajikan cantik mengundang selera. Ayam kremes ditaruh dalam piring putih berlapis daun pisang. Nasinya dibuat berbentuk kerucut dengan ayam kremes, lalapan seperti tomat, timun, daun kemangi, serta sambal goreng dalam cobek. Daging ayam ini bumbunya cukup meresap dan dibagian luar berbalut taburan kremes krenyes yang cukup royal. Cocolan sambal goreng terasa pedas nyam... nyam membuat rasanya makin enak!

Gurami gorengnya juga tak kalah menggoda, disajikan dalam wadah bambu berbentuk persegi empat. Wah, dagingnya disayat melingkar seperti sayap! Guraminya pas untuk porsi 1 orang, dilengkapi nasi putih, lalapan, kerupuk, dan sayur kacang panjang. Sayang si gurami kurang terasa gurih, meskipun renyah di bagian luar dan lembut di dalam. Namun sambal matah yang mendampingi sajian ini pedas-pedas renyah plus segar!

Strawberry squash - minuman ini tidak terlalu istimewa, berupa sirop strawberry yang dicampur dengan air soda. Meskipun begitu rasanya yang asam-asam manis cukup menyegarkan. Sambil makan saya pun sesekali melirik pengunjung baik lokal maupun mancanegara yang keluar masuk. Wah, rupanya lounge dan bar di bagian atas cukup ramai juga dikunjungi.

Mungkin karena target pengunjung di cafe ini adalah orang asing, maka harga untuk makanan sedikit lebih mahal dibanding resto lainnya yang ada di sepanjang Teuku Umar. Ayam kremes dihargai Rp 50.000,00 dan Rp 60.000,00 untuk gurami goreng. Sedangkan Strawberry Crush ditebus seharga Rp 33.000,00. O ya, sebelum pulang saya pun menyempatkan diri untuk membeli beberapa buah roti yang ditawarkan mulai Rp 5000.00 - Rp 7.500,00.


Asyiknya Picnic Lunch di Tepian Sawah

Menikmati makan siang sambil memandang hijaunya sawah merupakan pengalaman yang cukup unik. Menu komplet salad segar, dilanjutkan dengan spiced beef salad yang digulung paper rice tidak hanya lezat tetapi juga menyehatkan. Hmm... dessert brownies ber-topping vanila sauce pun jadi penutup yang sempurna!

Bali bukan hanya terkenal akan keindahan pantainya. Di sisi lain Bali, yaitu kawasan Ubud juga menyimpan keindahan pemandangan alam lainnya. Ubud terletak sekitar 200-300 meter diatas permukaan laut, sehingga iklimnya lebih sejuk dengan pemandangan sawah sejauh mata memandang. Sawah nan hijau dengan terasiring bertingkat-tingkat ini memang unik dan menjadi daya tarik tersendiri.

Di tempat ini pula saat liburan lalu saya mendapatkan pengalaman makan siang yang unik dan tak terlupakan. Four Seasons Resort Sayan, resort bintang lima yang berada di kawasan Sayan, Ubud ini memang istimewa. Selain kenyamanan menginap, resort ini menyuguhkan keindahan pemandangan alam, hamparan sawah, serta aliran sungai Ayung yang terkenal di Bali.

Dari area depan para tamu harus melewati sebuah jembatan sebelum mencapai lobby yang menyuguhkan pemandangan spektakuler. Lobby ini menghadap ke arah hijaunya alam Ubud dan sawah-sawah yang mengelilinginya, serta pemandangan 24 buah villa serta rumah-rumah penduduk yang berada di atas bukit-bukit.
 
Kedatangan saya kali ini adalah untuk menikmati 'Picnic Basket Lunch'. Makan siang unik ini dilakukan tengah sawah, sebuah buggy car pun mengantarkan dari lobby ke area bersantap. Setelah menuruni beberapa undakan anak tangga, tibalah saya di sebuah pondok dari kayu yang berada di pinggir sawah.

Rupanya seorang butler telah menunggu kedatangan saya dan pasangan. Bantal-bantal kecil sudah dipersiapkan beserta dengan sebuah meja kecil di tengah-tengah. Sebelum datang kami telah memilih menu yang akan dihidangkan. Masing-masing ada tiga pilihan untuk setiap menu appetizer, main course, dan dessert.

Appetizer ditawarkan berupa tiga jenis salad, yaitu Coob Salad with Avocado, Pappaya; Roasted Chicken Salad, d an Poached Prawn and Vegetables Summer Oil. Sedangkan main course terdiri dari Roasted Tuna with Balinese Spiced, Grilled Tommato and Mozarella Sandwich, atau Spiced Beef Salad yang merupakan pesanan saya.

Hidangan disajikan dalam kotak obento yang terbuat dari kayu dan bersekat-sekat. Wah... benar-benar seperti layaknya piknik! Di bagian tengah ada wadah kecil berupa irisan wortel dan timun yang dibuat seperti acar. Sedangkan Coob Salad with Avocado green lettuce, avocado, red lettuce, cherry tomato, lola rosa lettuce, asparagus dengan dressing green peppercorn vinaigrette. Salad segar ini menjadi menu pembuka yang menggugah selera!
terdiri dari
Sambil makan kami pun menikmati pemandangan para pekerja yang sibuk memanen padi yang telah menguning. Sesekali mereka pun melambaikan tangan dengan ramah kepada kami yang sedang menikmati santap siang. Rasanya sudah lama sekali saya tidak melihat pemandangan menyegarkan seperti ini.

Menu utama sendiri terdiri dari dua jenis lumpia Vietnam yang disajikan dalam kotak-kotak terpisah masing-masing dua buah. Yang satu adalah Spiced Beef Salad paper rice tipis. Isinya irisan daging dengan rasa pedas plus lettuce. Sedangkan lainnya berisi wortel dan bengkoang yang diiris tipis memanjang, tauge, bihun, dan udang yang menis segar. Yang satu ini terasa lebih krenyes dan menyehatkan. Keduanya diberi topping nuoc cham yang memberi sensasi asam-asam pedas.
digulung memakai
Dessert brownies dengan cashew nuts menjadi penutup yang manis makan siang kali itu. Meski sudah selesai, kami pun tak langsung beranjak pulang. Kami bahkan menyempatkan diri berjalan-jalan di pematang sawah dan menikmati musik alam berupa kicauan burung, suara aliran air sungai Ayung yang sayup-sayup terdengar. Sungguh kenyang plus menyegarkan pikiran!

Tak heran kalau Picnic Basket Lunch tak hanya banyak digemari oleh pasangan namun juga keluarga. Untuk menikmati paket makan siang ini ada baiknya melakukan reservasi terlebih dahulu sebelum datang.



Santap Malam Bercahaya Lilin di Tengah Sawah

Soal kuliner, Bali memang "ga ada matinye". Selalu ada "jawaban" yang cocok untuk jenis makanan yang kita ingini. Salah satu kawasan kuliner eksklusif yang terus berkembang di Bali adalah Seminyak dan Kerobokan. Di sini, berbagai restoran baru dengan pilihan baru bermunculan.
   
Kali ini, saya ajak Anda singgah ke Sardine - sebuah restoran yang dimiliki dan dikelola oleh pasangan Prancis-Slovenia yang ramah - di Jalan Petitenget, Kerobokan. Lokasi Sardine berada tepat di sebelah kanan Cafe Degan, dan di seberang Metis - keduanya sudah pernah saya review di sini.
   
Seperti umumnya tempat-tempat makan di Bali yang dimiliki atau dikelola oleh orang asing, pasti ditata sesuai dengan apik dan memanfaatkan semua unsur alam dan etnik yang ada. Di Sardine, tempat terbaik adalah di teras belakang yang menghadap ke hamparan sawah. Bahkan, Anda pun boleh duduk di gubug-gubug di tengah sawah. Menjelang senja, ini adalah the best seat in the house untuk melihat matahari terbenam. Di malam hari, di gubug ini dapat "diselenggarakan" candle-lit dinner bila Anda sedang ingin romantis.
   
Sambil duduk santai menunggu matahari terbenam, ada musik perkusi oleh beberapa musisi. Minumannya? Berbagai campuran arak - seperti: arak attack, arak caipirinha, dan lain-lain. Menjelang senja, musik perkusi dihentikan agar para tamu dapat menikmati matahari terbenam dengan musik di batin masing-masing.
   
Menu-nya sederhana - hanya dicetak di atas selembar kertas bolak-balik. Saya senang restoran dengan menu fokus seperti ini, sehingga tidak bingung memilih. Pilihan saya adalah Thai Beef Salad (Rp 80 ribu) sebagai appetizer . Daging sapi diiris tipis, lalu di-grill, disajikan dengan serutan mangga muda dan saus asam-manis. Top markotop!
   
Sambil menunggu main dish, saya mendapat kiriman gazpacho - complimentary dari chef di dapur. Wah, saya jadi "GR", karena menduga sang chef pernah membaca bahwa saya memang sangat suka gazpacho - sup dingin dari sayuran (timun, tomat, bawang bombai) yang di-blender.
   
Sajian utama yang saya pesan adalah Grilled Yellowfin Tuna (Rp 150 ribu). Ditampilkan dengan cara saji yang unik. Daging tuna panggang "nangkring" di atas spaghetti yang dibuat dari teh hijau dan rumput laut. Topping-nya adalah selembar nori (rumput laut) panggang. Pasta-nya bercitarasa Asia karena memakai saus ponzu yang biasa dipakai untuk shabu-shabu Jepang. Tuna-nya dipanggang sempurna - masih basah di bagian dalam. Mak nyuss!
   
Menilai dari dua jenis pesanan hari itu, saya berjanji akan datang lagi ke Sardine. Maklum, di daftar menu-nya yang ringkas itu masih terbaca beberapa menu lain yang sangat mengundang untuk dicicipi, seperti: Blackened Mahi-mahi, Black-tea Smoked Young Chicken , dan lain-lain.
   
Ayo, siapa ikut?


Ketonjok Pedasnya Ayam Asli Gilimanuk

Ayam betutu asli Gilimanuk ini memakai ayam kampung asli. Dagingnya empuk meski si ayam berukuran kecil, berlumur bumbu khas Bali kekuningan yang nonjok puedasnya. Kacang goreng krenyes, sambal matah, dan sayur gondo menjadi pelengkap pas hidangan nan lezat ini.

Jalan-jalan ke Bali memang terasa belum sah jika tidak mencoba ayam betutu. Tak sempat berkunjung ke penjual ayam betutu Men Tempeh yang terkenal itu, saya pun dianjurkan untuk pergi ke Jl. Merdeka 5, Denpasar. Di tempat ini terdapat restoran 'Ayam Betutu Asli Gilimanuk' yang katanya sih gak kalah dengan Men Tempeh.

Banner kuning khas restoran 'Ayam Betutu Asli Gilimanuk' ini sudah tampak dari kejauhan. Wah, kalau restoran yang satu ini saya tampaknya sudah tak asing lagi, sebab justru pengalaman pertama mencicipi ayam betutu asli Gilimanuk saya dapatkan di Jakarta. Dimana restoran dengan nama yang sama di Jakarta tersebut konon merupakan cabang dari restoran yang ada di Bali ini.

Saat sampai jam sudah menunjukkan pukul 15.00. Bagian dalam restoran telah dipenuhi oleh beberapa pengunjung yang sedang asyik bersantap. Buku menunya sederhana dan ternyata makanan yang ditawarkan tak begitu banyak, sebut saja ayam betutu Gilimanuk, ayam betutu goreng, sate lilit, lawar, dan masih banyak lainnya.

Sayang tampaknya saya datang kesorean dan harus puas untuk mencicipi si ayam betutu saja karena menu lainnya sudah habis termasuk si sate lilit dan lawar yang jadi incaran. Ayam betutu ini bisa dipesan 1 ekor, 1/2 ekor, dan 1/4 ekor dan karena datang sendiri saya memesan porsi 1/4 ayam betutu.

Rupanya jika memesan ayam betutu pengunjung sudah mendapatkan pendamping komplet berupa kacang goreng, sambal matah, dan sayur yang kesemuanya ditaruh dalam wadah-wadah kecil. Porsi 1/4 ayam betutu ini terdiri dari sepotong paha ayam lengkap dengan ceker ayam yang menyatu. Ayam ini berlumur bumbu khas Bali yang berwarna kuning encer.

Di badan ayam tampak menempel bumbu yang digerus kasar dan kuah berwarna kuning kecoklatan. Bumbu khas Bali yang membalut ayam ini terdiri dari cabai rawit merah, serai, bawang merah serta bumbu rempah lainnya. Saat disobek dengan tangan, wuih... dagingnya super empuk dengan bumbu yang meresap hingga ke serat daging.

Saat disuapkan ke dalam mulut huahh... rasa pedas mengigit langsung menyetrum lidah. Saya yang penyuka pedas pun sampai buru-buru menyeruput segelas es teh manis. Yang khas dari ayam betutu ini memang rasanya yang pedas menggugah selera, tapi buat yang satu ini pedasnya memang nonjok abis. Nyam nyam... pedas tapi benar-benar nikmat apalagi ditambah cocolan sambal matah yang memberi sensasi tersendiri saat menikmati ayam betutu ini.

Saya pun sempat terkecoh dengan sayur yang ditaruh dalam wadah mungil sebagai pelengkap ayam betutu ini. Awalnya saya mengira ini adalah plecing kangkung, namun menurut sang pelayan sajian tersebut adalah sayur gondo atau gonde. Konon sayur tersebut merupakan sayuran khas Bali yang dimasak seperti plecing yang berbalut gerusan sambal. Sudah pasti yang satu ini juga rasanya pedas mengigit. Satu-satunya penawar pedas selain minuman adalah kacang goreng yang rasanya sedikit asin gurih dengan sensasi kriuk garing.

Untuk porsi 1 ekor ayam betutu dihargai Rp 57.000,00, 1/2 porsi Rp 32.000,00, dan Rp 19.000,00 untuk 1/2 porsi ayam betutu yang saya nikmati. Tak terlalu menguras kantong bukan? Nah, jika ke Bali jangan lupa mencicipi kelezatan ayam betutu!



Crunchy Yummy di Bubba Gump Shrimp!

Resto yang berada di keramaian Kuta, Bali ini memang sangat menarik untuk disinggahi. Menu serba udang menjadi andalannya. Cajun Shrimp yang lembut berbalut butter sauce terasa harum gurih disajikan diatas hot pan bersama dua potong garlic bread . Kontras dengan Dynamite Shrimp yang keriuk renyah!

Nama Bubba Gump Shrimp Co akhir-akhir ini menjadi perbincangan di kalangan pencinta kuliner. Sejak dibuka pertama kali di California sejak tahun 1996 lalu, hingga kini restoran ini telah tersebar di beberapa negara lainnya seperti Jepang, Hong Kong, Malaysia, termasuk Indonesia.

Di Indonesia Bubba Gump Shrimp Co berlokasi di Komplek Pertokoan Kuta Centre, Bali. Restoran franchise asal Amerika dengan ikon seekor udang ini menawarkan hidangan seafood bergaya Amerika dengan shrimp alias udang jadi andalannya. Tak heran jika hampir sebagian besar pengunjung yang memadati bangku-bangku restoran ini merupakan turis asing.

Restoran dibuat berlangit-langit tinggi, sentuhannya mengingatkan saya akan restoran dan bar di film-film koboi Amerika yang pernah saya tonton. Lengkap dengan sebuah bar yang menempel di dinding. Malam itu Bubba Gump Shrimp Co cukup ramai dipadati oleh pengunjung, untunglah saya masih memperoleh meja kosong di salah satu sudut.

Perlengkapan wajib di setiap meja di restoran ini adalah, sebuah ember kecil yang berisi saus tomat dan sambal, serta segulung tisue. Kemudian ada plat berwarna biru dengan tulisan "RUN FORREST RUN" dan satu lagi berwarna merah "STOP FORREST STOP" yang ditempelkan bersama wadah garam dan lada. Wah, rupanya restoran ini juga menjadikan film Forrest Gump sebagai temanya.

"Selamat malam, sudah pernah makan disini sebelumya?" sapa sang pelayan yang menghampiri kami di meja sambil menyodorkan buku menu. "Kalau belum akan saya jelaskan. Di restoran ini jika memerlukan bantuan pelayan tinggal menggunakan lebel biru ini," ujarnya sambil menunjuk tulisan "RUN FORREST RUN" yang tadi saya pegang-pegang dengan rasa ingin tahu. "Sedangkan jika tidak, balik kembali ke plat merah "STOP FORREST STOP"," ujarnya sambil mencontohkan. Olala ... akhirnya rasa penasaran saya terjawab sudah.

Hampir semua menu yang ditawarkan tampak menggoda selera. Cajun Shrimp, Shrimper's Net Catch, atau Shrimper's Heaven merupakan beberapa menu rekomendasi dari restoran ini. Jika tidak ingin sajian berbahan dasar udang, Captain's Fish and Chips, Sirloin Steak, aneka Sandwich, atau Burger bisa jadi pilihan. Menjadi incaran saya malam itu adalah Cajun Shrimp dan Dynamit Shrimp yang keduanya memakai bahan dasar udang. Kemudian Cheesy Fries dan Pink Lemon Ups! menjadi pelengkap makan malam saya.

Cajun Shrimp disajikan dalam hot pan hingga tampilannya cukup unik. Sajian ini berupa udang segar yang dikupas kulitnya dan dimasak dengan butter sauce yang memberikan aksen sedikit gurih. Diatasnya ditaburi petterseli dan ditambahkan pelengkap dua irisan French bread yang dioles tipis butter dan cincangan bawang putih.

Sajian gaya Amerika biasanya memang hanya diracik dengan bumbu-bumbu sederhana. Hmm... aroma harumnya butter dan bawang putih yang menusuk hidung membuat saya tak sabar ingin segera mencicipinya. Saat digigit tekstur udang terasa kenyal segar, sensasi manis alami udang menyatu dengan gurihnya butter , terasa begitu pas di lidah nyam... nyam!

Hidangan ini kontras dengan Dynamit Shrimp yang disajikan dalam wadah bambu dim sum. Udang ini dibalut tipis tepung dan digoreng renyah dan disajikan diatas garnish berupa irisan kol. Rasanya krenyes enak apalagi saat dicocolkan dengan saus sambal atau saus tomat. Cheesy Fries alias kentang goreng yang disajikan dengan topping bacon bites, chedar cheese sauce, dan sour cream juga langsung jadi favorit saya.

Pink Lemon Ups! yang berupa campuran soda dan pomegranate syrup menjadi pelepas dahaga yang pas. Minuman ini disajikan unik dalam gelas khusus yang memiliki lampu berkelap-kelip di bagian bawahnya. Rasanya memang tidak begitu istimewa namun cukup menyegarkan mengingat udara yang sedikit lembab malam itu.

Untuk harga makanan di Bubba Gump Shrimp Co berkisar antara Rp 35.000,00 - Rp 250.000,00. Meskipun sedikit agak mahal, namun beberapa sajian dihidangkan dengan porsi yang cukup besar sehingga cocok untuk dimakan beramai-ramai. Cajun Shrimp sendiri dihargai Rp 85.000,00 dan Rp 70.000,00 untuk Dynamite Shrimp. O ya, sebelum pulang saya pun menyempatkan diri untuk membeli beberapa merchandise Bubba Gump Shrimp di toko yang berada di area yang sama dengan restoran ini. Penyuka seafood, silahkan mampir!


'Dinner Plus' di Balinese Theatre

Santap malam plus pertunjukan seni, keduanya dipadukan menjadi satu di restoran yang satu ini. Sambil menikmati makan malam di area open-air theatre pengunjung pun disuguhkan aneka pertunjukan musik dan tarian Bali nan eksotis. Bintang dan bulanpun turut menemani acara spesial ini!

Restoran The Balinese Theatre yang terletak di dalam Ayodya Resort menjadi pilihan. Pasalnya restoran ini menyuguhkan pengalaman bersantap yang sangat berbeda dan unik. Menjadikan makan malam di pulau dewata kali ini sungguh istimewa dan berkesan.

Letak The Balinese Theatre berada di Ayodya Resort Bali - sebuah resort di kawasan Nusa Dua seluas 11,5 hektar yang memiliki pemandangan menghadap pantai berpasir putih seluas 300 meter. Area restoran ini memang sedikit tertutup dari luar karena tembok yang mengelilinginya. Restorannya sendiri unik karena dibuat bergaya open-air dining di dalam teater terbuka beratap langit. Sedangkan area penonton malam itu diisi dengan kurang lebih 8 buah meja.
 
Di area depan saya disambut oleh para pelayan berpakaian tradisional Bali. Taburan kelopak bunga menyambut kedatangan saya dan pasangan malam itu. Kami disambut dan diantar langsung menuju meja yang telah kami reserved sebelumnya. Wah, beruntung saya memperoleh meja yang paling dekat dengan panggung.
 
Sebelum pertunjukkan dimulai, makan malam buffet sudah tersedia di sisi kiri dan kanan area panggung. Disajikan dalam bentuk stall-stall yang berderet-deret mulai dari cold appetizer, main course, sampai dessert. Pilihan saya jatuh pada green salad dengan dressing mayonnaise yang sedikit asam-asam segar serta sepotong roti yang dioles tipis dengan mentega.

Menu utama makan malam ini cukup banyak mulai dari sushi, nasi dan mi goreng, pecking duck, dim sum, sampai aneka dessert yang menggoyang lidah. Pertunjukkan berlangsung tak lama setelah kami mengambil makanan. Cahaya redup yang datang dari obor membuat suasana bertambah romantis dengan sayup-sayup suara deburan ombak yang sesekali terdengar saat suara gamelan berhenti ditabuh.

Tampaknya saya sudah terhipnotis dengan kelincahan para penari serta dentingan gamelan yang memenuhi membelah keheningan malam. Malam itu yang menjadi tema adalah 'Nusantara Dances' - yang terdiri dari beberapa tarian seperti Jaipongan Dance, Bali Dance dan Fire Dance yang spektakuler.

Para tamu pun berdiam diri karena diajak ikut berinteraksi dalam beberapa tarian seperti Jaipongan Dance misalnya. Menjadikan makan malam ini sangat menarik karena juga sangat-sangat menghibur. Apalagi bagi mereka yang tak memiliki banyak waktu seperti saya untuk berkeliling pulau Bali.

Untuk dapat menikmatinya pengunjung harus melakukan reservasi terlebih dahulu. O ya, tempat ini juga bisa disewa untuk group atau private function. Sungguh beruntung malam itu saya memperoleh kesempatan untuk bersantap di restoran yang menggabungkan dining experience dan entertainment ini. Apalagi keduanya bisa dinikmati dalam suasana dan sentuhan Bali yang kental dan nan eksotis.


Crab Ravioli yang Dahsyat di Tepian Jimbaran

Keindahan pantai Jimbaran, debur ombak dan buaian lembut semilir angin laut akan menemani Anda menikmati kelezatan sajian di sini. Ada salad Mediteranian yang segar, lamb kebab yang juicy hingga Fish and Chips yang crispy . Molten Chocolate Fondant
pun menjadi penyelus lidah yang luar biasa lezat di akhir santapan. Sulit dilupakan!
Pantai indah, suasana tenang dan romantis, cocktail yang segar plus makanan yang lezat. Itulah yang menjadi target saat mencari lokasi makan siang yang santai di kawasan Jimbaran. Nama PJ's yang ada di Four Seasons Resort Jimbaran sudah banyak dikenal orang. Hmm... terutama karena racikan cocktail sang bartender yang hebat plus seafoodnya yang enak.

Resto berlantai kayu  dengan area menghadap ke laut ini tak memiliki sekat. Karena itu saat duduk di meja santap, pemandangan lepas laut dengan gunung menjulang bisa sepuas hati dinikmati. Hembusan semilir angin laut plus suara gelombang yang memecah di pantai  menjadi musik indah saat makan.

Hidangan Mediterania yang terkenal sehat menjadi salah satu unggulan PJ's. Sebagai pembuka, PJ's Mezze dan PJ's Kudapan menjadi pilihan saya. Sengaja makanan pembuka yang berbeda dan banyak kami pilih agar bisa berlama-lama menikmati keindahan pantai Jimbaran.

Satu piring putih besar dengan beberapa mangkuk mungil disajikan. Mangkuk-mangkuk mungil berisi hummus chickpea, eggplant caviar, goat cheese dengan taburan cabai kering, spice tabouleh, olive hitam dan hijau. Pitta bread mungil yang masih hangat mengepul menjadi pelengkapnya.

Segera saja  pitta bread saya olesi dengan hummus, tabouleh diberi olive dan goat cheese olive dan lembut keju. Semburat rasa pedas cabai kering justru membuat sajian ini makin enak di lidah.
lalu dilipat dan nyam... nyam. Rasa gurih beradu dengan tekstur renyah
PJ's Kudapan lebih merupakan sampel camilan yang serba gurih. Ada lumpia lobster dengan saus pedas manis, plus salad udang dengan sayuran berbumbu kuning. Hmm... semuanya segar dan menggelitik lidah sehingga tak terasa pelan-pelan sajian pembuka inipun tuntas.

Suara deburan ombak di pantai menjadi aksen kuat suasana siang yang mendung tipis. Fish and Chips pesanan sayapun disajikan panas mengepul. Karena lama tak menyantap sajian ini saya jadi kangen berat. Apalagi Fish and Chips ini memakai bir dalam adonannya. Sudah hampir pasti bakal krenyes renyah.

Ternyata dugaan saya benar, Dua potong ikan kakap berbalut tepung dengan ukuran sedang ini memang krenyes renyah, gurih rasanya. Dicocol dengan saus tartar yang gurih asam dengan jejak malt vinegar benar-benar klop. French fries -nya bukan buatan pabrik tetapi dipotong sendiri hingga terasa gurih kenyal!

PJ's juga punya pizza yang dibakar dengan kayu dan pasta yang menggiurkan. Maka pilihan teman saya, ravioli dengan isian daging kakap dan kepiting sangat menggoda saya untuk ikut mencicipi. Empat buah ravioli dengan ukuran agak besar diselimuti saus tomat dengan cincangan olive plus serutan keju Parmesan.

O la la.. sekali suap langsung terasa kedahsyatan ravioli yang gendut ini. Rasa gurih daging kepiting dan ikan menyatu dengan ragout tomat yang asam segar dan renyah asin olive. Serutan keju Parmesan yang royal melengkapi kelezatan ravioli ini... Mamma mia!

Perut kenyang, semilir angin laut yang sejuk plus suasana pantai yang tenang nyaris membuat saya mengantuk. Untung saja tawaran dessert dari pelayan, membangkitkan kembali semangat saya. Selain shorbet dan ice cream, Molten Chocolate Fondant menjadi target saya.

Benar saja, puding cokelat bulat mungil disajikan dengan saus black cherry yang meleleh plus ice cream vanilla. Segera saya sobek bagian tengah puding yang panas mengepul agar lelehan cokelatnya bisa meluncur. Diaduk dengan saus cherry dan ice cream yang dingin, wouw.. meleleh sempurna di mulut. Kenikmatan puding inipun menjadi akhir santap siang yang indah di pantai Jimbaran.

Sepertinya lain kali saya harus mampir di malam minggu. Ssst.. di area depan PJ's ini ada Beds in the Beach. Kanopi berbentuk ranjang untuk dinner berpasangan, berjajar di sepanjang pantai, lengkap dengan obor dan pendar deretan lilin. Romantis bukan?


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 6+8+5