RSS Feed

Patung dan Monumen di Bali

Dalam era pariwisata, fragmen-fragmen bernuansa Hindu dan Bali mulai dikembangkan dalam bentuk monumen dan patung yang dibangun di lokasi strategis maupun di objek pariwisata. Monumen dan patung tersebut tersebut sesungguhnya tidak hanya berfungsi sebagai elemen seni tetapi dalam konsep ruang berfungsi sebagai landmark  suatu wilayah.

Hampir semua Pura dan Puri di Bali menggunakan elemen patung sebagai penanda atau petunjuk ruang. Patung berkarakter keras diletakan di luar (jaba) sedangkan di jaba tengah berkarakter sedang, di jeroan berkarakter lembut.


Catur Muka 1. Patung Catur Muka di Denpasar

Lokasi : Perempatan jalan Gajah Mada-Surapati-Veteran-Udayana

Karya : Gusti Nyoman Lempad

Tahun : -

Patung ini menggambarkan sosok Dewa Brahma dalam kisah Matsya Awatara. Dewa Brahma digambarkan memiliki empat wajah. Dikisahka Dewa Brahma menciptakan seorang dewi bernama Dewi Satarupa, seorang dewi yang sangat cantik, sebagaiman seorang dewi, maka kecantikan Dewi Satarupa sangat sempurna. Dewa Brahma sangat terpesona dengan ciptaannya, dan tidak mau kehilangan kesempatan barang sekejappun untuk tidak memandangi Dewi Satarupa. Maka dari itu Dewa Brahma lalu menciptakan empat wajahnya sendiri, sehingga Dewa Brahma memiliki 5 wajah, wajah yang kelima menghadap keatas guna memandang Dewi Satarupa jika terbang. Wajah kelima yang menghadap ke atas akhirnya dibakar oleh Dewa Siwa dengan menggunakan mata ketiga, karena Dewa brahma dianggap takabur.

 


Satria Gatotkaca 2. Patung Satria Gatotkaca

Lokasi : Pertigaan Tuban-Kuta-Nusa Dua (jalan ke Bandara)

Karya : -

Tahun : diresmikan oleh Gubernur Bali tanggal 30 Oktober 1992

Mengisahkan perang tanding antara adipati Karna dengan Arjuna. Kehadiran Gatotkaca di pertempuran tersebut merupakan siasat dari Kresna untuk menyelamatkan Arjuna. Agar Arjuna terhindar dari senjata andalan Karna yang bernama Konta Dewadanu. Senjata tersebut hanya bisa digunakan sekali dan akan memburu musuhnya sampai kemana saja. Senjata tersebut merupakan anugrah dari Rsi Narada. Kresna yang tahu takdir Gatotkaca akan gugur terkena senjata Konta, segera memerintahkan Gatotkaca untuk mengobrak-abrik pasukan Korawa. Pasukan Korawa kewalahan. berbagai senjata pusaka dikerahkan oleh pasukan Korawa namun tidak ada satupun yang mampu melukai Gatotkaca. Akhirnya dengan berat hati Karna mengeluarkan senjata Konta yang sengaja disimpan untuk membunuh Arjuna. Begitu senjata Konta dilepaskan langsung memburu perut Gatotkaca. Akhirnya Gatotkaca jatuh tersungkur dan gugur.

 

Gatotkaca sebenarnya mengetahui bahwa dia akan gugur dengan senjata Konta milik Karna. Karena sarung dari senjata Konta terhisap oleh perut Gatotkaca saat digunakan untuk memotong pusar Gatotkaca. Namun gatotkaca tetap berjuang menegakkan kebenaran serta menyelamatkan pamannya yang merupakan bagian dari Panca Pandawa.

 

 

Dewa Ruci

3. Patung Dewa Ruci

Lokasi : Pertigaan Sanur-Kuta-Nusa Dua (simpang siur)

Karya : Ir. Wayan Gomudha (designer) dan Wayan Wenten (pematung)

Tahun : -

Patung Dewa Ruci mengisahkan perjalanan Bimasena tatkala disuruh oleh Guru Drona mencari tirtha Amertha di tengah samudra. Bima menyelam sampai dasar lautan, disana ia berjumpa dengan Naga Nemburwana, akhirnya terjadi pertarungan yang seru diantara keduan. Naga kemudian melilit tubuh Bima, Bima mencekik leher naga dan menancapkan kukunya ke leher naga. Naga tewas ditusuk kuku 'pancanaka' Bima. Dalam kodisi kelelahan dan hampir tewas, muncul Dewa Ruci dalam bentuk Sang Hyang Acintya memberikan wejangan filsafat hidup kepada Bima. Bima Ksatriya yang jujur dan ulet akhirnya menerima tirta Amertha dari Dewa Ruci.

 

4. Patung Sang Jogor Manik

Lokasi : Pertigaan Batubulan (perbatasan Gianyar-Denpasar)

Karya :

Tahun : -

Menggambarkan figur Sang Jogor Manik, yaitu tokoh pelaksana hukuman bagi atma yang sudah lepas dari jasadnya. Jogor Manik bersama Sang Suratma merupakan anak buah dari Dewa Yama. Berdiri menghadap barat di tengah-tengah perempatan, mengingatkan kepada manusia terutama pengguna jalan agar selalu berhati-hati dalam bertindak. Karena Sang Jogor Manik menantikan anda di alam sana.

 


Patung Bayi

5. Patung Brahma Lerare

Lokasi : Pertigaan Sakah-Blahbatuh-Mas

Karya :

Tahun : -

Patung ini sangat populer dengan sebutan patung bayi, karena memang sosok yang ditampilakn berupa bayi. Brahma Lerare atau Brahma rare dalam bahasa indonesia berarti Dewa Brahma saat bayi.

Patung ini diartikan sebagai sebuah kelahiran yang suci. Dewa Brahma adalah manifestasi Tuhan sebagai pencipta. Kelahiran karya seni atau apapun itu diharapkan berdasarkan pikiran dan maksud yang suci, sebagaimana kelahiran bayi yang polos dan suci dan murni.

 

6. Patung Fragmen Kala Rau

Lokasi : Taman Ciung Wenara, sebelah barat Kantor Bupati Gianyar

Karya : Ir. Wayan Gomudha (designer) Wayan Wenten (pematung)

 

Beberapa buah patung terdapat di taman kota Gianyar "Taman Ciun Wenara", merupakan suatu rangkaian cerita yang diambil dari kisah pengadukan lautan susu untuk mendapatkan tirtha amertha. Dalam patung fragmen tersebut diambil penggalan kisah yaitu saat penyelmatan tirtha amertha yang hampir saja dikuasai oleh kaum raksasa, yaitu Sang Kala Rau. Tiga figur patung menggambarkan kisah yang sangat populer dalam masyarakat Bali.

 

PATUNG DEWI RATIH Patung Dewi Ratih atau Dewi Bulan, digambarkan berupa seorang dewi dalam lingkaran mengisahkan Dewi Ratih mengetahui penyamaran Sang kala Rau yang mengubah wujudnya menjadi seorang dewa. Dewi Ratih menunjuk Sang Kala Rau sambil berteriak bahwa ada raksasa menyamar.

 

kala rau Patung Sang Kala Rau, yaitu patung raksasa yang digambarkan sedang berlari dengan sebuah senjata 'cakra sudarsana' menancap dilehernya. mengisahkan, setelah ketahuan Sang Kala Rau lalu merubah wujudnya kembali seperti sedia kala. Sementara Dewa Wisnu sudah menyiapkan senjata pusaka "Cakra Sudarsana". Saat Kala Rau yang berhasil merebut tirtha Amertha langsung meminum tirtha Amertha tersebut. Namun belum sempat ditelan, baru sampai batas leher. Dewa Wisnu sudah melesatkan cakra sudarsana dan menebas leher sang Kala Rau. Tubuh bagian leher kebawah ambruk..sementara bagian leher keatas tetap hidup. Hal ini dikarena khasiat tirtha Amertha yang membuat siapa saja yang meminumnya menjadi abadi. Dewa Wisnu digamabarkan dengan patung Dewa yang sedang menunggangi Garuda sambil membawa Cakra Sudarsana dan Tirtha Amertha. dan Patung Dewa yang sedang menunggangi kereta perang.

kereta

Sesudah kejadian itu, Sang Kala Rau menjadi marah, menjadikannya dendam kesumat kepada Dewi Ratih yang sudah membuka penyamarannya. Sejak saat itu Kala Rau selalu mengejar Dewi Ratih. Suatu saat bila Sang Kala Rau berhasil menangkap Dewi Ratih, maka Dewi Ratih akan ditelan oleh Kala Rau, namun karena Kala Rau tidak memiliki perut, maka Dewi Ratih selamat karena keluar dari leher Kala Rau. Saat hal itu terjadi disebut Gerhana Bulan.

 





1 Komentar
image

Fri, 14 Oct 2011 @15:33

PUTRI APRIANI

bagus2 banget


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 1+8+6