RSS Feed

I Wayan Sadra

image

Dunia kesenian Indonesia kehilangan musisi besar pada Kamis, 14 April 2011, pukul 00.15 wib. Musisi I Wayan Sadra yang menetap di Solo, Jawa Tengah ini menutup usia di RS. Muwardi karena sakit.

Semenjak lama, seniman yang lahir pada 1 Agustus 1954 di Banjar Kaliungu, Kaja, Denpasar, Bali, ini memang mengidap kelainan jantung. Oleh kawan-kawan seniman, Sadra dikenal sebagai seniman yang "bandel". Saat dirinya sedang dirawat di sebuah Rumah Sakit beberapa tahun lalu, Sadra nekat minta izin ke dokter yang merawatnya untuk konser.

"Untung dokternya baik. Selang infus dicopot, terus saya pergi ke tempat konser. Pulang konser, masuk rumah sakit lagi, dan selang infus dipasang kembali," tuturnya dua tahun lalu di Ubud, Bali, kepada kompas.com.

Karier musiknya diawali seperti ditulis tamanismailmarzuki.com semenjak kanak-kanak. Sejak kecil, I Wayan Sadra sudah bisa bermain gamelan dalam tempo singkat hanya dari melihat. Pada usia 11 tahun, sadra bahkan sudah melatih sebuah kelompok gamelan di Puri Kendran, Gianyar Bali.

Berlatar belakang pendidikan Sekolah Menengah Musik Konservatori Karawitan Spesialisasi Musik Tradisional Bali (1972). Melanjutkan kuliah di Jurusan Seni Rupa Lembaga Kesenian Jakarta namun tidak ia tamatkan. Pindah ke Solo dan kuliah pada jurusan Karawitan, Sekolah Tinggi Seni Indonesia (sekarang ISI), melanjutkan ke Program S-2 Penciptaan Seni di tempat yang sama.

Menjadi pengajar musik, terutama musik gamelan Bali dibeberapa perguruan tinggi antara lain, STSI/ISI Surakarta,  Institut Kesenian Jakarta (1975–1978), dan di Universitas Indonesia (1978–1980). Sejak tahun 1979, ia telah membuat musik untuk konser, musikalisasi, puisi, teater, ilustrasi untuk film kartun, iringan tari, seni instalasi dan lain-lain.

Bergabung dengan grup Sardono W. Kusumo (1973-1974), mementaskan Dongeng dari Dirah, dan turut serta berkeliling Eropa bersama grup ini. Tahun 1988, menjadi pembicara dalam Pekan Komponis Nasional di Jakarta. Tahun 1989, ikut menghadiri California the Pacific Rim Festival. Tahun 1990, turut berpartisipasi dalam acara Composer to Composer di Telluride, Colorado, Amerika Serikat. Pernah diundang menjadi composer-residence di Dartmouth College, Hanover, New Hampshire, Amerika Serikat (1991) dan menjadi composer tamu Pan Festival Pacific di Wellington, Selandia Baru (1993).

Dari tahun 1990 sampai dengan sekarang beberapa karya musiknya diterbitkan dalam bentuk compact disc, antara lain oleh Broadcasting Music Incorporation (BMI), Prog Peak Composer Collective, American Gamelan Institut (AGI), Leonardo Journal Publication dan The Japan Foundation. Karyanya antara lain : Snow's Own Dream (1992), Interactions/New Music untuk Gamelan. Karya-karya tersebut disiarkan oleh beberapa radio di dalam dan diluar negeri, juga di pentaskan di beberapa negara.

Ditahun 1991, Sadra memperoleh penghargaan New Horizon Award dari International Society for Art Science and Technology, Berkeley, California, Amerika Serikat. Disamping mencipta musik, ia juga menulis artikel, kritik musik untuk beberapa media massa, antara lain, Suara Karya dan Bali Pos.

Melihat perkembangan musik di Indonesia, Sadra mengatakan kalau musik kita masih didikte untuk memenuhi selera pasar, hal ini terjadi karena masyarakat tidak bisa memilih dalam kecenderungan musik yang seragam. Itu juga terjadi karena pilihan-pilihan terhadap aliran musik lain tidak diberikan tempat. Gejala populis yang ditebarkan televisi juga makin membuat penyeragaman terhadap selera bermusik masyarakat.

Menurutnya Indonesia dengan tradisi yang lebih kaya, malah musiknya menjadi miskin, tidak ada yang berani menyajikan musik tradisi, bagaimana kita bisa bangga dengan musik kita. Modal kita sesungguhnya gamelan, kalau kita mau menjadi bagian dari musik dunia. Ia mencontohkan kelompok musik The Coors dari Irlandia, yang membawakan lagu-lagu tradisional yang bernuansa Celtik. Musik The Coors ditunjang oleh klub malam, kafe atau tempat hiburan lainnya.

Salah satu perlawanan Sadra tehadap penyeragaman selera musik adalah dengan mementaskan karyanya Borderless, pada bulan Juli 2009 lalu di Teater Salihara, Pasar Minggu. Borderless adalah sebuah musik yang berangkat dari instrumen drum, keyboard, saksofon, flute dan bass tapi dimainkan dengan cara yang berbeda. “Alatnya yang sehari-hari dikenal, tetapi kita mainkan dengan cara kita masing-masing. Nyatanya menghasilkan komposisi yang bisa jadi alternatif mendengarkan musik,” katanya.

I Wayan Sadra kini menikmati royalti yang tak seberapa besar dari musiknya yang direkam dan diedarkan oleh American Gamelan Institut, Broadcasting Music International, Lyricord dan Frog Peak Composer ini menikah dengan Rini Hendrawati, dikaruniai 3 orang anak, Putu Ayu Cening sari, Made Aryasa dan Komang Tania.

 

referensi:

kompas.com


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 9+0+6